123 Hal yang Membuat Kaum Pria Meneteskan Air Mata
Ada sedikitnya tiga hal
yang dapat membuat kaum pria meneteskan air mata, yaitu: cinta, dosa,
dan wanita.
Cowok kok
nangis? Malu, dong… Ah siapa
bilang? Sst… kalau kamu mau tahu apa saja yang bisa membuat lelaki itu menangis,
bersedih hati, terluka, atau kecewa, bacalah artikel ini sampai selesai.
– ** 00 ** –
Nah… inilah 123 hal yang
membuat pria meneteskan air mata, atau setidaknya membuat hatinya tersayat, teriris,
terluka-pedih….
Sosok pria sebagai seorang ayah, ia akan menangis,
berduka, terluka, sedih, atau kecewa jika:
-
Ada pria lain, selain dirinya, di hati istri yang amat dicintainya.
- Ia ditinggalkan sendirian oleh anak dan istrinya.
- Ia tidak pernah dianggap ada oleh keluarganya.
- Kedatangannya disambut dengan omelan, berbagai macam pertanyaan penuh kecurigaan, atau muka masam dari istri dan/atau anak-anaknya. Sepantasnya seorang istri menyambut suami dengan sapaan nan lembut, senyuman yang mesra, dengan pakaian yang memesona.
- Istrinya diketahui selingkuh atau “ada main” dengan pria lain.
- Ia tidak mampu memberikan uang jajan untuk putra/i yang dicintainya.
- Ia tidak mampu memberikan atau membelikan yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya.
- Ia masih tergantung dengan orang tuanya, terutama dalam segi materi.
- Ia teringat dengan masa lalunya yang begitu menyenangkan, dan sekarang ia merasa begitu menderita.
- Jika masa lalunya begitu kelabu, ia akan menyesalinya mengapa ia seperti itu, sehingga… kini ia berjanji untuk bertaubat agar lembaran kehidupan menjadi putih berseri.
- Ia dimasukkan oleh anak-anaknya ke panti jompo setelah ia tidak lagi mampu berbuat apa-apa.
- Ia dibantah anak-anaknya dengan cara yang begitu kasar.
- Anak-anaknya yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang membencinya ketika mereka (beranjak) dewasa.
- Anak-anaknya menjadi pembangkang, nakal, bandel, sulit diatur. Intinya adalah anak-anaknya menjadi orang yang kurang/tidak cerdas baik dari segi IQ (intelektual), EQ (emosional), SQ (spiritual), maupun AQ (adversity quotient).
- Anak-anaknya hanya mau hartanya saat ia ada, bahkan sampai berebut warisannya setelah ia tiada.
Sosok pria
sebagai seorang anak, balita, anak kecil, atau remaja ia akan menangis,
bersedih, terluka, berduka, atau kecewa jika:
-
Kehadirannya di dunia ini ternyata tidak dikehendaki oleh orang tuanya.
- Ia dikatakan sebagai anak haram, anak durhaka, anak yang tak tahu balas budi, anak kurang ajar, anak yang tak tahu berterimakasih, dan sebutan lainnya yang tak pantas.
- Ia tidak dibelikan mainan atau sesuatu yang diinginkannya.
- Ia merasa haus.
- Ia merasa lapar.
- Ia merasa atau melihat orang tuanya tidak harmonis, sering cekcok, sering bertengkar.
- Ia dijauhkan dari sesuatu (baik barang, benda, mainan, maupun eseorang) yang disukai atau dicintainya.
- Ia merasa kemauan/keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya.
- Ia dimarahi, terutama hanya gara-gara masalah kecil/sepele.
- Ia dibentak-bentak.
- Ia terlalu dibatasi dan dikekang.
- Ia dilarang bergaul dengan lawan jenis, hanya karena alasan takut dengan pergaulan bebas. Solusinya: orang tua memberitahu cara-cara bergaul yang agamis dan dinamis.
- Ia dilarang melakukan sesuatu dengan alasan kasihan atau sayang. Sering kita mendengar orang tua berkata, “Melarang itu berarti tanda sayang.” Tidak dalam semua hal ungkapan ini benar.
- Ia tahu orang tuanya terlilit hutang, atau ada masalah yang tak mudah untuk dipecahkan.
- Ia tahu orang tuanya terlibat dalam masalah kriminal.
- Ia dipaksa menikah, atau dijodohkan orang tuanya dengan seorang gadis yang tidak dicintainya, atau dijodohkan dengan seorang wanita demi memenuhi ambisi, keinginan, kemauan orang tuanya, misalnya: mempertahankan kerajaan bisnis keluarga, demi reputasi-popularitas, demi kekayaan dan kejayaan, dsb.
